Buat yang bingung, ribet, nggak ngerti, takut diboongin, coba deh:

crossover itu gunanya untuk mengatur pembagian frekuensi supaya sesuai dengan rentang frekuensi yang sanggup direproduksi oleh speaker.

Contoh; tweeter tidak di design untuk mereproduksi frekuensi rendah (bass/ sub-bass) sehingga digunakan lah crossover untuk mem-filter frekuansi rendah tersebut supaya tidak masuk ke tweeter. Begitu pula untuk midrange dan woofer/ sub-woofer.

Kalau sistem anda dibagi menjadi 3 speaker (tweeter/midrange/woofer) gunakanlah crossover 3-way, dan 2-way apabila hanya dibagi tweeter dan midrange/ midbass saja.

Refernsi step by step yg bisa dicoba;

Coba deh cari info lebih detail dari barang2 yang anda punya (power handling, sensitivity, frequency range, dsb). Dari situ tentukan rentang suara dari 20Hz - 20KHz mau dipotong di titik berapa. Penentuan titik potong ini penting untuk menghindari ada nya overlaping frekuensi yg bisa menyebabkan cancellation dan juga cacat suara (distorsi) apabila titik potong keluar dari range speaker.

Tidak ada titik potong (crossover point) yang absolut benar atau salah, semua ini tergantung dari komponen yg dimiliki dan juga akustik mobil.

Kalo titik potong udah ditentukan, berlanjut ke crosover order. Maksudnya seberapa tajam frekuensi mau dipotong (di filter). 1st order 6db/ octave mempunyai slope yg landai (susah di tune namun soft n natural kalo bisa dapet). 2nd order 12db/ octave slope nya lebih tajam (umum digunakan, lebih mudah di tune). 3rd / 4th order slope nya sangat tajam, titik potong harus benar2 akurat atau bisa mengakibatkan suara bolong (frekuensi gap).

Proses ini adalah bagian dari development yg cukup makan waktu. Coba dengan beberapa test dari titik potong dan crossover slope sampai benar2 dapat rentang frekuensi yang lengkap tanpa ada nya gap.

Langkah selanjutnya apabila crossover point dan slope sudah dapet adalah penentuan komponen. Coil/ induktor dan capacitor adalah komponen utama dari crossover passive. Begitu pula resistor. Disini anda dapat bermain2 dengan karakter dan warna suara. Coba semua komponen dari yang murah sampai yg mahal (kalo bisa) supaya bener2 tau apa bedanya capacitor harga 1000 perak dengan Mcap oil/ silver capacitor atau Solen. Belum tentu juga capacitor mahal enak didenger kuping. Karena warna suara ini tergantung dari head unit, speaker, power dan kabel juga selain dari crossover.

Tips yg saya pakai; dengerin dulu sistem tanpa crossover (head unit, power, kabel dan speaker) jadi bisa tau suara dan karakter asli dari sistem anda. Baru tambahkan crossover dan dengarkan bedanya. Coba beberapa kali ganti dan bandingkan komponen sampai dapet karakter yang lebih baik (cocok di kuping)

Langkah selanjutnya kalau rentang frekuensi sudah lengkap, warna suara sudah cocok, lanjutkan ke staging/ imaging. Proses ini butuh waktu dan kesabaran yg cukup lama dan juga sensitivitas kuping kita. Percayalah dengan kuping sendiri daripada alat. Disini intinya adalah untuk mencari fase (phase). Banyak pendapat tentang fase disini. Ada sebagian orang menganggap fase sama dengan polarity. Ada juga yg tidak. Buat saya ada hubungan antara keduanya. Polarity (+) dan (-) pada speaker apabila dipasang terbalik akan membuat fase berubah 180 derajat. Saya langsung aja ke aplikasi; Penempatan posisi dan angle speaker adalah point yang sangat penting dalam pencarian staging dan imaging. Tweeter merupakan komponen terpenting.

Tips yang saya pakai; gunakan midrange/ midbass sebagai referensi. Matikan dulu woofer/ sub-woofer dan tweeter. Treatment doortrim anda dengan peredam dan perhatikan ruang resonansi nya. Sampai dapat suara kick bass (sekitar 80 - 100Hz) yg cukup jelas). Gunakanlah CD refernsi. Selanjutnya hidupkan tweeter. Gunakan CD vokal pria dan wanita (bergantian) sambil mencoba beberapa angle dan posisi untuk tweeter. Satu panduan, dengarkan titik fokus midrange dan samakan angle dan posisi tweeter untuk menyamakan titik fokus tweeter. Apabila ketemu maka fase anda sudah benar. Tiap2 instrumen musik keluar dari satu titik (bukan ditengah) di seluas dashboard anda. Ingat tidak semua instrumen musik termasuk fokal harus keluar seolah2 dari tengah dashboard. Hal ini sangat tergantung rekaman dan sound engineer dalam proses mixing (jadi tiap rekaman beda2). Yang penting adalah setiap satu instrumen terdengar jelas dan fokus dari satu titik.

Hidupkanlah woofer/ sub-woofer. Aturlah lo-pass dan phase 0-180 sampai suara bass tertarik ke depan. Sebelumnya perhatikan treatment untuk sub nya dahulu. Free air atau box, sealed atau ported, volume box dsb.

Fine tuning; pada langkah ini bermainlah dengan kabel. Cobalah beberapa model/ tipe/ merek kabel yang ada untuk mendapatkan karakter dan warna yg lebih mantap lagi.

Stop. Disini saya sarankan stop heheheheh. Satu komponen anda ganti (head unit, power atau apalah) maka sistem akan butuh tune dan fine tune lagi.... and it's never ending story

Conclusion:

Installasi yang benar (heath system)
1. Kapasitas dinamo ampere dan accu yg memadai
2. Penggunaan besaran kabel yg sesuai (gauge/ awg)
3. Safety (sikring, grounding, isolator)
4. Sirkulasi dan penempatan komponen
5. Absorber/ damper (akustik kabin)

Tata suara yg benar (sound system)
1. Penentuan titik potong crossover dan slope
2. Speaker handling yang sesuai dengan power rate dari amp
3. Polarity dan fase yang tepat
4. Akustik interior dan volume box yang tepat

Staging dan imaging (stereo image)
1. Posisi dan tiap2 speaker

Kualitas suara (sound quality)
1. Merek, tipe tiap2 komponen sistem (HU, power, kabel, speaker, xover)
2. Rekaman (analog/ digital)
3. Sampling (24-bit/192KHz)
4. Processing/ mixing/ mastering (stereo/ HDCD/ SACD/ DVD-A)
5. Hindari kebanyakan komponen (HU ke preamp, ke equalizer, ke active crossover network, ke power amplifier, ke speaker, diukur2 pake RTA dl) duh itu ngeset nya sama puyengnya kaya live concert jakjazz heheheheheh

So guys, jangan buru2 keluar duit banyak untuk bikin crossover passive, kalau sistem nya masih berantakan. Banyak sekali faktor yang berpengaruh dan crossover hanya 1 bagian dari keseluruhan sistem suara.